Rabu, 23 Juli 2008

Cerita Yang Sangat Indah

Hm, cerita ini may dapet dari seseorang yang ngasih alamat ini ke may...

http://perempuan.com/index.php?ar_id=15404

Bagi may, ini bener-bener cerita yang sangat mengharukan!

***

Selamat Membaca :)

***

Aku seorang istri dan belum dikarunia anak, usia pernikahan kami sudah berjalan selama lima tahun. Perkenalanku dengan Pram (bukan nama sebenarnya) berlangsung dalam situasi yang sangat romantis, demikianpun ketika kami menjalani masa pacaran. Masa-masa itu buatku adalah masa-masa paling indah dalam sejarah hidupku. Pram adalah laki-laki yang menjadi dambaaku, secara fisik maupun sifatnya yang alami. Dan alasan itu pulalah yang membuatku akhirnya menerima pinangannya.

Namun setelah menjalani pernikahan selama lima tahun, aku mulai merasakan kejenuhan. Alasan-alasanku mencintainya dulu telah berubah menjadi sesuatu yang menjemukan. Terus terang aku adalah tipe perempuan yang sangat sentimentil dan sensitif. Aku merindukan saat-saat romantis seperti waktu kami masih berpacaran. Suamiku saat ini sangat berbeda dari apa yang kuharapkan, dan aku mulai mencurigai perubahannya.

Hingga akhirnya aku mengajukan perceraian kepadanya. Saat itu ia sangat terkejut, karena sebelumnya kami memang tak bertengkar. “Mengapa, salahku apa Nen?” tanyanya bingung. “Aku lelah mas, kamu tak bisa lagi memberikan cinta yang kuinginkan,” jawabku sekenanya. Ia memang langsung terdiam dan termenung. Sepanjang malam itu ia sepertinya sulit untuk memejamkan matanya.

Keesokan harinya ia kembali mempertanyakan alasan mengapa aku minta bercerai. “Nen, apa yang bisa aku lakukan agar kamu mau merubah pikiranmu itu, aku merasa aku telah memenuhi kewajibanku sebagai suami, bisakah kamu menjelaskan duduk persoalan yang sebenarnya,” ia bertanya dengan ekspresi wajah yang tak berubah. Kekecewaanku semakin bertambah, seorang pria yang bahkan tidak dapat mengekspresikan perasaannya, apalagi yang bisa aku harapkan darinya?

Aku menatap matanya dalam-dalam dan menjawab dengan pelan. "Aku punya pertanyaan, jika kamu dapat menemukan jawabannya di dalam perasaanku, aku akan mengubah pikiranku. Seandainya, aku menyukai sesuatu dan sesuatu itu amat sulit untuk diwujudkan kecuali dengan berkorban nyawa, apakah kamu mau mewujudkannya untukku?”

Aku memang tak mendapatkan jawabannya malam itu, bahkan aku tak bisa menemuinya keesokan harinya, ia menghilang dan pergi tanpa pamit. Yang bisa kutemui hanya sepucuk surat berwarna pink di atas bantal.

“Sayangku, harus aku katakan bahwa aku tak bisa mewujudkan apa yang kau sukai, karena itu akan membuatku mati, tapi aku ingin kau tauh bahwa aku sangat mencintaimu, lebih dari yang kamu kira,”

Sungguh kalimat pertama itu membuatku hampir frustasi, tapi aku terus membaca kalimat demi kalimat selanjutnya.

“Sayangku, apa kamu tak pernah sadar, jika setiap hari aku harus pergi pagi dan pulang larut malam, mengorbankan semua kesukaanku akan kebebasan hanya untuk kamu, apakah kamu tak pernah mengerti ketika kamu sakit aku yang selalu menyentuh tubuhmu dengan lembut melalui tanganku, apakah kamu tak mengerti bahwa suara dari mulutku, selalu kuberikan untuk menghibur kamu saat kamu mengalami kejenuhan akan hari-harimu.”

“Sayangku, apakah kamu sadar, setiap hari aku harus berjuang memalingkan wajah dan mataku dari perempuan-perempuan lain yang mungkin saja bisa menggodaku, aku harus menyegarkan mataku dengan tidak terlalu sering menonton televisi seperti yang kamu lakukan, agar kelak mataku masih bisa menatap kecantikanmu saat kita tua.”

"Tetapi Sayang, aku tidak akan bisa mewujudkan keinginanmu yang hanya akan mengorbankan nyawaku. Karena, aku tidak sanggup melihat air matamu mengalir menangisi kematianku. Sayang, aku tahu, ada banyak orang yang bisa mencintaimu lebih daripada aku mencintaimu. Untuk itu Sayang, jika semua yang telah diberikan oleh tanganku, kakiku, mataku tidak cukup buatmu, aku tidak bisa menahanmu untuk mencari tangan, kaki, dan mata lain yang dapat membahagiakanmu."

Setetes demi setetes air mataku jatuh ke atas tulisannya dan membuat tintanya menjadi pudar, tetapi aku tetap berusaha untuk terus membacanya.

"Dan sekarang, Sayang, kamu telah selesai membaca jawabanku. Jika kamu puas dengan semua jawaban ini, dan tetap menginginkanku untuk tinggal di rumah ini, tolong bukakan pintu rumah kita, aku sekarang sedang berdiri di sana menunggu jawabanmu. Tetapi jika kamu tidak puas dengan jawabanku ini, biarkan aku masuk untuk membereskan barang-barangku dan aku tidak akan mempersulit hidupmu. Percayalah, bahagiaku adalah bila kamu bahagia."

Aku segera berlari membuka pintu dan melihatnya berdiri di depan pintu dengan wajah penasaran sambil tangannya memegang segelas susu dan roti kesukaanku, aku lalu memeluknya. Kini aku tahu, tidak ada orang yang pernah mencintaiku lebih daripada dia mencintaiku dan aku mulai merasa takut kehilangannya.

Itulah cinta, di saat kita merasa cinta itu telah berangsur-angsur hilang dari perasaan, karena merasa dia tidak dapat memberikan cinta dalam wujud yang kita inginkan, maka cinta itu sesungguhnya telah hadir dalam wujud lain yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Seringkali yang kita butuhkan adalah memahami wujud cinta dari pasangan kita dan bukan mengharapkan wujud tertentu. Karena cinta tidak selalu harus mengorbankan nyawa. (rn)